RSS

Fisika yang menyebalkan. Dinikmati jadi memusingkan. Tapi ku cinta...

Fisika yang menyebalkan. Dinikmati jadi memusingkan. Tapi ku cinta...

Bunda Maria

Suatu saat nanti, ketika aku berada di tempat itu
Aku ingin melihatmu berdiri diantara para malaikat
Dan, maukah kau tersenyum padaku
Seperti kita sudah pernah bertemu sebelumnya?



:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lagu Rindu

Aku menulis lagu rindu untukmu
Dan kau menulis lagu rindu untuknya



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tuapeijat



July 3 rd 2016

Aku harus mengurus beberapa  surat terkait kependudukan di Tuapeijat, tempat yang tidak begitu kusukai. Oleh mahalnya biaya hidup, oleh gaya hidup para pegawai pemerintahan, oleh pengalaman hidup disana ketika tamat SMA dulu (skip it). Hal ini menumbuhkan ketidaksukaanku untuk tinggal disana.
Terpaksa, adalah kata yang menghantarkanku ke sana. Dan note ini kutulis sehari setelah kembali dari Tuapeijat.

Aku bersyukur Tuhan memaksaku untuk mengurus surat-surat itu di Tuapeijat, sehingga aku dipertemukan dengan keluarga baik yang lucu. Terkadang, hal baik dan indah kita temukan saat kita melakukan hal dengan terpaksa. Hidup suka begitu, tak tertebak. 

Kembali ke Tuapeijat.
Keluarga Bapak Taslim Samongilailai dan Ibu …. Saleleubaja. (Tak kuagai onim tante, bojoik).  Mereka menyambut ku dan adekku (Lina) dengan baik di sana. Memperlakukan kami seperti saudara sendiri, padahal jika digali-gali, tak ada hubungan keluarga selain hubungan yang dibuat buai’ Adam sama buai’ Hawa. Anak-anaknya juga baik. Biar ku perkenalkan. Ada si Wan yang kuliah di UPI, si Jendri kelas 3 SMP, si Esteik kelas 5 SD dan si Putri anak yang ketemu di bakkat bago’. Hahaha. Just Kidding Put. Ada Ian juga, teman, sahabat, dan abang, yang sebernarnya memperkenalkan aku dengan keluarga ini. 






(Jendri, Wawan, Putri, Lina, Aku)

Karena pengurusan surat-surat mudah dan cepat, maka banyak waktu dan hari yang kami lewati dengan mono. Tapi karena karena karena, maka kami pergi mugejek juga ke tugu Sikerei di kilo 9 dan ke pantai Mapaddegat. Mandi laut.  Indah, tak seperti namanya Jhehe. Putih pasirnya, biru lautnya sebiru langitnya. (langit di atas, bukan di bawah hahaha).


 (Aku dan Asteik, menikmati pantai dengan cara masing-masng)

 (Persiapan matang mah kawan, bawa subuk. Abis berenang, makan, terus berenang lagi, makan lagi)


Malamnya, atau diwaktu kerja atau masak, si tante akan bercerita banyak, tentang keluarganya, tentang lawakan mentawai dan banyak lagi. Kami akan sibuk dengan hp masing-masing. Hahaha… namun  ketika beliau menceritakan cerita lawak, aku akan mendengarnya baik-baik, tak mau ketinggalan. Lucuuuu sekali. Saking lucunya, aku gak bisa membaginya di sini. :D

Jadi kami sering berdiskusi dengan Ian, tentang banyak hal, termasuk rahasia awetnya hubungan suami istri di rumah ini (banyakan curhat tentang Hesti dia ding, hahaha). Rahasianya, mereka selalu mendiskusikan segala hal, berdua saja. Romantis kan? 
Karena simaman sibuk kerja hingga pulang jam 3 dini hari, dengan setia sitante nungguin sambil tidur :D. lalu mereka akan membahas hal-hal rumit yang mereka alami dalam pekerjaan, anak-anak, tetangga dan semua hal. Hihi… dapet bekal inih.


Jadi, aku berterima kasih pada temanku Ian, pada tante dan keluarganya, pada Tuhan yang baik. Semoga aku bisa baik seperti mereka :)
 
 
Perjalanan pulang :) Beautifull :)

:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Travel

















:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ilalang dan pagar tua



Aku berharap waktu dapat kembali, membalikkan semua hal yang pernah ada dan mengembalikan semua hal yang pernah pergi. Jika dapat, ilalang akan lebih pantas mengisi tanah kosong, karena mawar terlalu indah. Aku tak cukup tangguh untuk merawatnya… Jika itu adalah ilalang, ia akan merawatku walau ia mengering oleh terik. 

Membayangkan mu hidup dalam kelimpahan dan bahagia, menyenangkan hatiku. Bersama nyanyian dan tawa. Aku? Hanya penghalang yang merisihkan, seperti pagar tua dan lapuk. Hanya ilalang yang tumbuh dan menemaninya. 

Dan jalanku tak seindah tampaknya. Hari-hari lalu tak semanis kata. Kau kecewa mengetahuinya.
Pikirku, biarlah aku dengan hidupku dan kau dengan hidupmu. Kita berada di jalan yang berbeda, sangat berbeda. Bukan seperti mawar dan ilalang, namun seperti mawar dan pagar lapuk.




:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wrong Love



Dec 18th 2015
Morn, 7:53

Miliki dua cinta yang sama-sama tak dapat disentuh.  Cinta yang tak  dianggap oleh dunia. Dia ada, dia nyata… hanya saja ia seperti bayangan. Sekuat apapun mengejar, ia hanya akan berdiri di sisi. Luka, sakit,  bahagia, ia hanya berdiri di sana, tak dapat dipeluk. Seperti sendiri, namun tak benar-benar sendiri.  

Katanya, cintaku jatuh pada orang yang salah. Salah bagiku untuk mencintainya, salah bagiku untuk berharap memilikinya, salah bagiku untuk merancang masa depan bersamanya, salah bagiku untuk menghabiskan waktu hidupku bersamanya. 





Hatiku salah, merasakan bahagia saat bersamanya, hatiku salah merasakan sakit saat ia bersama dengan yang lain, hatiku salah merasakan sesak saat ia tak akan meninggalkanku. Lagi-lagi, aku salah dan dunia berserta matanya menyerangku tajam seperti ujung-ujung pisau ditujukan padaku, dari semua sisi, dari semua sisi… dan semakin dekat, setiap ku melangkahkan kakiku.

Ingin mencari pembelaan, sekedar kata bahwa tak masalah dengan cintaku. Tapi tak ada keberanian. Aku bahkan tak ingin awan dan langit tahu. 

Andai cintaku tak jatuh pada orang yang salah.   
 




:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Melihatmu dari sudut mata



Nov 24 2015
7.42 pm
My room

Apa kabarmu? Apa hidupmu baik saja tanpaku? Apa kau bahagia? Apa tawa mu lebih, tanpaku?
Apa kau dan keluargamu baik saja,sejak  tanpaku? Aku membayangkan lebih dari ini.

Melihatmu dari sudut mata, ku rasa kau bahagia.

Apa kau kesepian tanpaku? Mungkin tidak, kau punya banyak tempat untuk bercerita. Kau bahkan ingin dekat dengan yang lain ketika bersamaku. Hanya saja, itu tertahan karenaku. Sekarang, tanpaku, kau dapat bersama dengan siapapun yang kau ingin. Tak usah pedulikanku, walau terkadang kita berpapasan tak sengaja. Kau bisa menganggapku tak ada.

Melihatmu dari sudut mata, ku harap kau bahagia.

Aku tak pantas untuk mu. Jika kau buka mata, perbedaan yang seperti jurang itu, tak mampu ku lewati. Bukan berada sebelah menyebelah, namun aku berada jauh di dasar jurang, dan kau berdiri tegak di atas sana… Mekar seperti bunga matahari. Kau terlalu indah untuk ku miliki. Terlalu berharga untuk ku peluk.  Bahkan mimpi pun tak inginkan ku bersamamu. Bahkan mimpi…

Melihatmu dari sudut mata, ku ingin kau bahagia.

Banyak cinta yang lebih pantas menunggumu. Jauh lebih pantas dariku. Jika kau lihat ke depan, aku hanya akan menua dalam dasar jurang. Ku mohon, berbahagialah bersama cinta yang akan menemanimu bersinar seperti mentari. Aku akan menikmati sinarmu dalam diam. 

Melihatmu dari sudut mata, ku mohon bahagialah.
Dengan begitu, aku juga berbahagia untukmu. 

Aku kehilangan… kehilangan yang pantas.
 


:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sahabat Itu Mereka


==========================================================================



Aku tak tahu apakah ini namanya sahabat, yang pasti mereka menguras isi dompetku.  Kurasa mereka juga merasakan hal yang sama. Dengan isi dompet itu, kami mengunjungi kafe-kafe yang lumayan keren, yang cukup keren, hingga yang tidak keren. Keren tidaknya tergantung dari, sekeras apa kami boleh tertawa dan bicara. Makin keras tawa, makin keren kafenya. Survei membuktikan bahwa kafe terkeren untuk sementara adalah Kedai Kopi Om …. depan klenteng, El’s Coffe (note: 10 pm) dan dapur Chef Sit. Mari kita kupas satu-satu dengan pisau cutter.

Pernah sekali, nongkrong di kedai kopi sambil latihan ngamen untuk rencana kegiatan tahun baruan,  kita nyanyi hampir 10 lagu, dilihatin sama semua pembeli di sana. Malunya, gak ada 1 lagupun yang selesai *lol. Kesalahan itu terletak pada gitarisnya yang gak apal kunci. Aiiiihh, siapalah tu… Gak lama, pengamen beneran datang, dan kita ditantang untuk nyanyi. Siapa takuuuuttt (*belagu dikit). Ternyata emang lagunya enteng, lagu ku dari ungu. Jelas-jelas itu kami kuasai sejak di bangku sekolah, ya entenglah. Hakhakhak… Tapi di nada tinggi agak sumbang dikit ding, hihihi.




Selanjutnya, demi memupuk rasa kebersamaan, dijanjikanlah malam itu kumpul di El’s coffe. Si kawan satu ituhhh, baru balik Bogor ceritanya. Dipesanlah kopi-kopi ala manca, gak tau namanya, lalu disandingkan dengan roti krispi, apalah namanya… pokoke dia cuma 4 batang. Ketika si kawan nyampe, dia langsung keluarin box Tupperware dari ranselnya, “oleh-oleh dari Bogor” jawabnya santai. Haiyaaaa, kita ni di kafe mah, dikeluarin pula box berisi donat. Ckckck (tapi habis juga).


Setelah pengunjung lain pada pulang, jadilah kafe itu seperti rumah kami sendiri. Berputu-putu sesuka hati. Pindahin ini, pindahin itu, ambil ini, letak itu… Pucing babang dedek *kata baristanya dalam hati. Emang ada barista di sana?



Ini yang paling keren, dapurnya Chef Sit. Kita bisa teriak-teriak, nyanyi apa aja, nari juga boleh, tidur juga bisa, semua hal itu bs dilakukan sambil makan. Awsome *kagum.

Rencana selanjutnya adalah Coffe Toffe sabtu nanti. Mau tantang, konser di kafe itu. Hahaha… Let’s see this weekend.  
 















:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS