RSS

Fisika yang menyebalkan. Dinikmati jadi memusingkan. Tapi ku cinta...

Fisika yang menyebalkan. Dinikmati jadi memusingkan. Tapi ku cinta...

Mimpi

Pagi yang tenang…
Menghantarkan mimpi kembali ke udara
Berserak menjadi puing yang sedikit diingat dan sebagian dilupa
Mimpi bersamamu
Duduk di bawah pohon teduh
Sedang ilalang melambai di ujung sana
Seorang anak berlarian, disusul seorang lagi
Ah, bintang jatuh tadi malam
Mengabulkan permohonanku dalam mimpi


Mentari malu-malu muncul dibalik dedaunan
Hangat,  memelukku dari dingin semalaman
Seperti kau sedang memelukku
Saat bercengkrama di bawah pohon teduh
Dalam mimpiku tadi malam

Tahu kah kau, dalam mimpiku
Awan memiliki tangan
Ia mengambil pedih dan sedih, sisa dari masa lalu
Dan sahabatnya angin, menghantar kesejukan bersama helai daun yang jatuh
Menyentuh hatiku hingga ke relung paling dalam
Aku bertanya-tanya, apakah ini yang disebut bahagia?


Aku terjaga dari tidur
Tersandar dalam pelukanmu

Kau…  ada dalam mimpi dan nyata hidupku



:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

OMK ke Guluk-guluk


Kunjungan kali ini di hari minggu tanggal 19 Maret 2017.  Mulai dari hari Jumat-Sabtu, kita persiapan paduan suara untuk persembahan pujian dalam ibadat dan persiapan kegiatan SEKAMI.

Hari sabtu 18 Maret 2017, kita dapat kabar duka bahwa Bapak dari seorang teman OMK dipanggil Bapa. :'(

Kita hampir batalin keberangkatan ke Guluk-guluk, tapi setelah dibicarakan ulang, kita tetap jadi berangkat.
Hebatnya, beberapa teman-teman cowok berinisiatif buat karangan bunga, karena di sini gak ada tepat/jasa pembuatan karangan bunga. Teman-teman begadang sampe jam 1 malam untuk ngebuatnya. Makasih ya teman-teman. Mmm, sederhana namun indah. Sayang, gak sempat di foto, karena waktu itu kita bener-bener gak ada yang kepikiran buat foto-foto.

Setelah semua oke, kita berangkat ke Guluk-guluk yang jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan sepedamotor. Sebelumnya kita singgah dulu di rumah duka (Matobe) yang sekitar 20 menit dari Sikakap.
Sampai di sana, suasana sangat sangat memilukan. Banyak keluarga dan sahabat yang datang, sangat ramai, seramai tangisan-tangisan yang sangat menyayat hati.

Matamu terpejam, insanpun terdiam
Nyanyi ria terputus, kegelapan mencekam
Salibmu tersandar dingin kaku
Saudara meratap tersedu
S’lamat jalan saudara
Mawar cinta perkasa
Semoga karsa dan harapan
Fajar baru merekah

Hari itu serasa kelabu. Kita berangkat dalam diam dan tanpa senyum. Padahal kita akan melayani anak-anak dalam sukacita.

Namun terkadang, kita sering dikelabuhi oleh perasaan, terutama rasa sedih yang mendalam, sehingga hati kita tertutup akan maksud dan rencana Tuhan. Bahwa tak ada duka yang abadi, pun tak ada sukacita yang abadi. Semua bergulir dan mengalir dengan adil. Tuhan tidak membiarkan dunia kami kelabu dan sedih sepanjang hari, Ia mengirim hal-hal konyol terjadi untuk kami tertawai bersama. The Amazing Father :) 

Aku gak tau siapa yang memilih jalan pantai untuk menempuh dusun Bubuakat---- Mangauk-ngauk. Karena kami berada di barisan paling belakang, ya kami cuma ngikut ketua rombongan yang di depan. Katanya ini jalan pintas, jalan pantai. Tak ada masalah, selama air laut tidak naik pasang.
Ternyata, ada masalah, air laut naik.   4 motor sudah jauh di depan dan nggak lagi kelihatan, sedangkan 4 motor lainnya sedang berusaha melewati air laut yang semakin naik. Belum lagi pasir yang dilalui lunak dan ban sering selip dan ntah berapa kali kita hampir jatuh.


(Mega dan Merpin. Penumpang harus turun untuk melewati beberapa jalan sulit)

Gak ada yang bisa dilakuin selama perjalanan 1 jam itu, selain menikmatinya dan menghibur diri. Hampir jatuh, kita ketawa. Motor gak bisa jalan sehingga penumpang turun, kita ketawa. Motor mogok, ketawa, mogok lagi, ketawa lagi. Hihihi, lucu. Perjalanan yang seharusnya bisa dilalui dengan 15 menit menjadi 1 jam lebih.  


(Beberapa teman sedang menyeberangkan motor untuk melewati sungai kecil)


(Nah, ini Frater kami yang sedang berusaha menaklukkan pasir kering, tak lupa penumpangnya Pepi memberi semangat. )

                       
Di ujung jalan pantai, beberapa teman sedang menunggu sambil berteriak memberi semangat, seperti kejuaraan lomba lari. Aku curiga, memberi semangat yang mereka maksud adalah kata lain dari ngetawain. Uuuhh, tapi tak apalah, tak ada yang dapat dilakukan selain ikut ketawa. Akhirnya kita ketawa bareng2, ngetawain yang baru aja dilaluin dan ngetawain Oreste yang ternyata adalah dalang dari diambilnya jalan pantai ini. Sungguh, berjalan dengan Oreste lumayan sengsara.

 Telat. Sampai di Guluk-guluk jam 11 pagi. Ibadat dimulai jam stengah 12 yang seharusnya jam 10. Tapi karena ada beberapa kejadian yang tak diduga, umat juga dapat memakluminya. Jam 1 selesai ibadat (lamaaaa) dan kita makan di rumah umat lalu jam 2 kita mulai pembinaan anak-anak. Hmm, di sini banyakan anak kecil. Yang sekolah udah pada berangkat ke desa Saumangnyak, tempat yang ada sekolah SMP dan SMA nya. Jadi anak-anak nggak begitu ramai. Dan ini nya lagi, OMK di sini ternyata nggak jalan. Nggak ada kegiatannya. :)
Tapi semoga dengan sharing hari itu, mereka punya inisiatif dan kemauan untuk bangkit lagi. Amin.


(Ini foto rombongan kita, OMK Sikakap)

(Dan ini kita bareng OMK Guluk-guluk setelah sharing bersama)

Ini beberapa foto kegiatan SEKAMI di sana.


(Mereka diajarin untuk berani memimpin doa spontan, Bapa kami, Salam Maria dan Kemuliaan)



 (Ini nggak tau ekspresi apa. Saking serius berdoa kali yak, atau yang lagi mau bersin. Hahaha)


(mereka semangat banget pas diajarin lagu-lagu baru. Ini pas lagu mentega dan roti.)


(Ini games kelas besar atau anak-anak kelas 4 ke atas)


(dan ini permainan kelas kecil. Hihi, masih imut dan lambat ngertinya. Jadi makin lucu lihat mereka bermain, saking lucunya kakak pembina lebih banyak ngumpul di sini)


Jam stengah 5 kita cabut. Aku sempat ke rumah tante bentar buat ambil pisang untuk mom. Lalu sambil jalan pulang, kita laksanain aksi sosial kita buat kasih bantuan beras ke umat yang dirasa layak untuk menerimanya.



(Nano, Buai’ = Nenek, Rijal dan Frater)


(Nano lagi jelasin  ke Buai’ dari mana asal bantuan pake bahasa Mentawai yang patah-patah. Hahaha)
                       

Ini adalah 2 nenek yang hidup sendiri yang tidak ada penghasilan pasti perbulannya. Mereka ke ladang menanam pisang atau keladi dan berusaha untuk tetap bertahan hidup sekuat mereka. Kami cuma bisa memberi beras yang nggak banyak, yang menurut ku, jujur, itu sangat sedikit dan nggak ada apa-apanya. Tapi untuk kita tau, bagi mereka makan nasi itu termasuk hal yang wah dan mewah di sini. Hanya beberapa keluarga yang bisa makan nasi setiap hari, seperti pegawai pemerintah dan orang yang punya kedai di sini. Tanteku, mereka biasanya makan pisang dan keladi yang diolah menjadi subbet (makanan khas mentawai), sedangkan beras itu hanya dimasak sekali sehari 1 tekong hanya untuk anak-anaknya, itupun dibanyakin airnya sehingga menjadi bubur, agar banyak, karena tante punya 3 anak. Kerasnya hidup. Aiihh, apalagi dengan nenek-nenek ini.

Beda banget dengan kita, nasi tuh ada banyak dan bahkan ada yang buang malah, tanpa banyak mikir. Terutama yang tinggal di kota. Semoga kehidupan masyarakat di Guluk-guluk semakin membaik dan kehidupan kitapun baik, dalam ekonomi, bertetangga dan dalam ber-Tuhan.

Perjalan pulang, hmmm, gimana ya. Lagu yang diajarin ke anak-anak tadi, jalan serta Yesus, menjadi lagu yang pas dinyanyiin sepanjang jalan. Aku dan Merpin berada di posisi paling belakang, dan setelah menempuh perjalanan sekitar 3 km, ban belakang kio bocor. Hiks hiks, kita mesti jalan sekitar 1 km, karena nggak ada bantuan. Teman-teman udah jauh di depan dan nggak lagi kelihatan. Gak ada bengkel, yang ada cuma sawah dan pohon-pohon, sungai, jembatan. Sukseslah lagu jalan serta Yesus kami nyanyikan. Karena merasa lelah, aku request ke Tuhan agar dikirim bantuan. Dan Puji Tuhan, Halleluyah, seorang datang dan mau menolong. Dia bawa aku ke desa terdekat (Saumanganyak) dan Merpin bawa kio. Di perjalanan aku ngira-ngira, kalo jalan kaki sejauh ini mah, beneran nggak kuat. Jauh kali pung.

Sampe di sana, teman-teman lagi nunggu di salah satu kedai. Oh, senangnya bertemu mereka. Aku sedikit cemas juga, karena hari mulai gelap. Kita minum dan makan wafer dan ngobrol dan ketawa dan ngelawak dan sambil nunggu kio dibaikin. Lagi-lagi, ini semua karena Oreste. Aku juga gak tau kenapa, tapi kak Eka bilang ini semua karena Oreste. Sampai diciptakan lagu, jalan serta Oreste, sengsara selamanya. Hahaha.

4 motor udah jalan duluan dan kami ga tau mereka dimana. Yang rombongan aku ada 4 motor dan kita udah kemalaman di jalan. Aku gak takut sih, karena rame-rame. Kalo cuma 1 atau 2 motor, itu horor juga. Gimana nggak, kiri kanan hanya hutan.

Akhirnya kita sampai di perumahan penduduk, Polaga, lalu Mangauk-ngauk, Bubuakat dan Matobe. Kita singgah bentar di rumah duka, buat ngecek jangan-jangan teman-teman lagi doa di sana. Dan betul, mereka semua di sana. Tapi kita nggak bisa masuk, dan mereka yang lagi doa nggak bisa keluar, karena ada doa yang lagi nggak bisa diganggu. 
Di sanalah aku lihat, seorang ibu kerasukan dan kejang-kejang, teriak-teriak. I am afraid, really really afraid. Di sana tu gelap banget, nggak ada lampu dan listrik. Oh God, untung kita bisa pergi, dan doa selesai dan kita bisa pulang semua, bareng-bareng dan Puji Tuhan, semua baik-baik saja. Hihihi takut ding.

Karena jalanan Matobe-Sikakap udah jalan bagus, mirip aspal dikit, kita bisa jalan ber-iringan 3 motor 1 baris. Kita buat formasi 3 3 3, eh motornya lebih satu ya. Hehehe, bukan, bukan motor hantu, tadi aku lupa hitung motor Abdi :)


Dengan formasi yang ngeborong jalan, kita konvoi dengan bernyanyi sepanjang jalan. Nyanyi kita adalah nyanyi anak-anak sekolah minggu, mulai dari jalan serta Yesus, jalan serta Oreste yang sengsara selamanya, Sorak-sorai, ku mau cinta Yesus, Bapa Abraham, Teman mari kita terbuka, hakuna dan banyaaaaakkk lagi. Hampir 3 album. Hahahaha. Lagi-lagi, kita pulang membawa sukacita dan bahagia di hati masing-masing. Semoga kita semua bahagia di dalam Tuhan. :)



:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aksi Setekong Beras

22 March 2017

Sore itu aku dan beberapa teman berkumpul untuk menjalankan misi mulia yang tidak rahasia, yaitu aksi setekong beras. Kita ngumpulin 1 tekong beras dari rumah-rumah umat katolik di paroki Sikakap ini. Beras-beras ini akan diberikan pada umat yang dianggap layak untuk menerimanya yang tinggal di stasi-stasi atau di kampung-kampung. Hmm, bukan berarti kami tinggal di kota, ya Sikakap ini juga kampung. Jadi intinya orang kampung memberi bantuan beras kepada orang kampung lainnya. Hahaha…


 (Aksi setekong beras)

(Gak cuma tekong, ada yang pake mangkok malah, dan banyak yang ngasih lebih J)


Yappp, kami adalah OMK = orang muda ketuaan = Orang Muda Katolik, yang kedatangannya di pintu-pintu umat sangat tidak diharapkan dan tidak ditunggu-tunggu. Hahaha, tapi kami dengan pedenya mengetuk pintu demi pintu.

Beberapa view lumayan bagus yang didapat selama aksi ini.


(Lagi nunggu Peni yang lamaaaa banget jemput beras di rumahnya. Ini deket rumah Bapak Silaen)


(Ada tanaman anggur di halaman rumahnya Papi di Mabolak. Sayang belum ada yang matang)


(Di Takpuraukat, di salah satu rumah warga, teman kita, Andi ikut main auooo uuooo dengan anak-anak. Bener masa kecil kurang bahagia J Hampir aja dia ditinggal di sana)

Kita berhasil ngumpulin sekitar 20an kg beras yang akan kita sumbangin ke stasi Guluk-guluk (mom’s town). Semoga semua yang kita lakuin berguna bagi kita dan sesama. :) 



:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jatuh Hati

21 March 2017
Night in my room


Awalnya tak ada yang istimewa darimu
Sesering kau berlalu, sebanyak itu aku tak peduli
Hingga suatu hari, ku temukan senyummu di balik kaca
Senyum yang bukan untukku

Sejak itu, ku tunggu kau lalu setiap hari
Hanya untuk melihat senyum teduhmu
Kata orang ku jatuh hati
Yang ku rasa seluruh dunia ku jatuh

Aku mulai menulis namamu di langit
Berharap langit membawamu dalam hidupku
Jikapun ini terlalu jauh

Cukuplah saja bila senyum itu untuk ku


:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Some good scenery

I take some picture that I think good and beautiful but I don’t know what should I do with this. And I think its good if I post on my blog. You know its good in my opinion, and of course, you shouldn’t think as I am.  Everybody have their own opinion about everything.

I like watching MTMA (My Trip My Advanture). The program show many great place in Indonesia. I haven’t go anyone of them yet. Hihihi. But we can wish right, someday we will.

Ah, I don’t have camera, like professional and I am not a photographer. I just using my camera handphone (Lenovo A536) so… the photo, maybe, not too good. But, if you use the great great camera that God give to you, your own eyes, and you stand there like I do, I’m sure, we’ll have the same judgment… this place so georgeus.


1. Mapaddegat Beach in Tuapeijat, Mentawai (29 June 2016)



2. The other place of Mapaddegat Beach in Tuapeijat, Mentawai (01 July 2016)


3. My voyage from Tuapeijat to Sikakap Island, Mentawai (02 July 2016). I took it from the ship.



4. Polaga Beach in Sikakap, Mentawai (07 July 2016)


5. Taman Melati, Padang (14 September 2016)


6. Sako Beach near of Bungus harbor in Padang (31 December 2016)



7. Tower Sikakap, Mentawai (5 February 2017)


8. Matobe-Bubuakat Beach in Sikakap, Mentawai (15 Februari 2017).



9. Bakkat Menuang island, across of Pastoran Sikakap, Mentawai (25 February 2017)



10. I stand in Berkat, across of Sikakap Island (4 March 2017)



11. From komplek pastoran Sikakap. I can not see the horizon (14 March 2017)



12. Bakkat Menuang Island (14 March 2017)



13. Tower Sikakap and a fisherman, sikakap, Mentawai (14 March 2017) The sea like a mirror. You can see your shadow.



#without editing 


:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

OMK ke Bake

March 6, 2017


                Kemarin tanggal 5 Maret 2017, kita orang muda Katolik ikut pelayanan ke dusun kecil di bagian selatan pulau Pagai atau pulau Sikakap. Dusun itu bernama Bake, tepatnya 40 km dari pusat Sikakap. Kita termasuk rombongan besar, bersama frater kita semua berjumlah 16 orang dengan mengendarai sepeda motor. Sasaran kita adalah pembinaan anak-anak BIA, SEKAMI, BIR dan OMK.  Nah, inilah ceritaku tentang perjalanan OMK kemarin J



(Sri dan aku)

                Senja di Berkat Baru, salah satu dusun di seberang pulau tempat tinggalku. Di Berkat ini juga sekolah SMA ku dulu. Teman-teman yang satu sekolah pasti gak asing lagi tempat ini, mungkin rindu malah. Ini adalah terminal boat yang setiap hari dilalui untuk nyebrang. Ah, liat orang yang di belakang? Itu Pak Juntak, operator boat yang masih aktif bekerja membawa anak-anak sekolah menyeberang. Biasa aku panggil tulang Juntak. Dan pulau di seberang itu adalah pulau tempat tinggalku. Ini adalah malam minggu, dan kita, beberapa OMK ngadain acara weekend bareng di rumah salah seorang teman OMK. Sambil nunggu acara bakar ikan, aku, Sri dan Oreste (fotografer) bersantai sore di sini, ga jauh dari rumah teman tempat acara weekend. Kita nyanyi-nyayi, ngobrol, ketawa, sampe nyonya pemilik rumah manggil buat acara bakar ikan.


(Oreste, Sri, dedek kecil ponaan si Nyonya, aku, Nyonya Eka, Merpin ketua OMK)

                Gelap yak?? Hehehe… Walau gelap, hati kita cerah kok, secerah bulan sabit malam itu. Hihihi. Ini kita acara bakar ikan. Setelah bakar ikan, makan bareng, dengerin lagu Mentawai terbaru dan lucu sambil joget, dilanjutin dengan latihan koor untuk ditampilin di stasi Bake + latihan gerak lagu untuk SEKAMI. Setelah selesai latihan, kita breafing bentar buat persiapan besok. Then we go to rest.
Esoknya kita berangkat, dibekali dengan permen kaki (hot hot pop) tiap orang. Tapi ada yang nggak kebagian juga sih. Hehehe.


                Ini masih di km 0, Seay Baru. Dari sini kita bisa lihat pulau Sikakap dengan jelas beserta selat kecil yang memisahkan dua pulau. Aku ambil foto pas lagi jalan, jadi view nya nggak dapet semua. Nah, itu yang dibelakang aku, si kawan yang nggak mau kalah. Seneng banget kalau udah ngelewatin kami. Paskah dan Hotma.
                Pas di km 2, suasananya nyaman banget. Di kiri kanan ditumbuhi rumput liar dan pohon jati yang tegap dan ranting-rantingnya sedikit menutupi jalan. Suhu di sana juga lebih sejuk karena berada pada puncak bukit. Sepanjang jalan aku merentangkan kedua tangan dan tak henti menengadah menatap langit. Indah dibalik dedaunan jati. Angin yang sejuk menyentuh wajahku dan ada rasa damai yang sulit diceritain. Pokoke nyaman dan damai. Aku suka. Aku bersyukur boleh ada di sini saat ini dan merasakan ini. Dan ketika jalan pulang, dan kami melewati lagi jalan ini, aku merasakan hal yang sama. Aku bahkan menutup mata, membiarkan masa lalu dan kenangan mengalir pergi. Aiih, tiba-tiba curhat. Hahaha.



(Merpin, Aku, Sri, Paskah, Rijal, Hotma, Wen, Lita, Kak Eka)


                Lihat senyum dan tawa cerah di atas? Ini adalah tawa kemenangan setelah menaklukkan tantangan pertama. Yaitu jalan rusak. Paskah bahkan berteriak keras setelah melewati ini :
“My Trip My Advanture”
Hahaha, kok jadi MTMA yakkk.


(Frater sedang berusaha menaklukkan jalanan becek)

                Yap, masalah utama di pulau ini adalah transportasi. Sembako yang mahal, minimnya pengetahuan dan teknologi bahkan komunikasi, itu dikarenakan susahnya transpotasi. Gimana nggak, semua mesti dikirimin lewat kapal dari kota, no bus or truck, no flight. Bahkan jalan darat, bentuknya kayak gini. Ada yang lebih parah malah. Hmm, semoga kedepan pulau ini lebih baik dalam segala hal.

                Oh ya, ada 3 titik rawan/jalan rusak kayak gini sepanjang perjalanan 40 km. Syukurlah nggak begitu banyak dan perjalan kita aman sampai tujuan. Cuma ini ding, waktu di km 18 ban motornya Rijal bocor dan nggak ada bengkel di sepanjang jalan, kecuali hutan. Kita mesti ke km 23 di dusun Bele’ Raksok yang ada bengkelnya. Nah, di sini nih jadi orang kurus nggak enak banget. Gimana nggak:

Merpin: “ Parah bocornya pak Cal. Jangan dipaksa, nanti tambah parah”
Rijal : “Iya. Tu gimana lagi?”
Aku : “ Yang cewek ada yang tartig, biar Rijal bawa motor sendiri” (dengan pedenya ngomong)
Paskah: “Kalau gitu Elvi pindah ke Oreste, biar kak Eka yang sama Merpin.”
Aku : (sedikit complain) Loh, kok aku?
Paskah: “Ya, lebih kurus. Biar muat tarik tiga.” (sambil nyengir menang)
Aku : “Berat ku 50”
Sri : “aku 53”
Kak Eka : “aku 56”

Ah, semua pada teriak berat badan masing-masing. Hotma juga nggak mau kalah, 50 katanya.
Gak ada pilihan lain, aku harus rela berpisah dengan merpin dan pindah ke Oreste. Bertiga dengan Sri. Dan sepanjang jalan, kita nggak berhenti ketawa. Karena motor ini muatannya paling berat, yaitu 160 kg setelah dihitung oleh Sri, sehingga kita tertinggal jauh di belakang. Kadang sopir bilang berat sebelah, maka aku dan Sri memperbaiki cara duduk sambil ketawa. Kadang sopir bilang nggak ada tempat duduk lagi, maka kami bergeser-geser sambil ketawa, terutama di penurunan. Saat menanjak, serasa aku tertinggal dibelakang, dan motor bergerak sangat sangat pelan. Jadi ingat siput di film Epic. Hahaha. Alhasil, Sri menderita sakit pingggang dan aku menderita sakit paha. Setiba di km 23, puji Tuhan ada bengkel dan semua kembali normal. Sambil nunggu motor Rijal diperbaiki, waktunya berkodak ria. Hihihi

(This is us, OMK Sikakap)

(Wen, Oreste, Paskah, Apul, Kak eka, Rijal, Hotma, Lita, sri dan yang berlesung pipit itu Frater kami. Wkwkwk)

(Jalan besar di Bele’ Raksok. Ah, itu aku dengan jaket merah kesayangan. Jaket 8-1 SMP Frater J )


(Lita dan Murni di pondok. Aku, Hotma, Sri, kak Eka lagi berselfi ria dan yang lain lagi nikmatin teh hangat dan kue dari keluarga Merpin. Yap, ini kampungnya ketua OMK dan yang di belakang itu adalah rumah beliau. Hihihi)


(Pepi, Sri, Lita, Hotma, Eka, aku, Murni. The girls OMK yang baik hati dan rajin menabung J )



(Rijal, aku, Eko, Roni, Paskah, Hotma, Lita, Wen, Oreste, Sri. Kita nyampe di dusun Purourougat, km 37. Di sini ada sekolah tingkat menengah, SMP dan SMA.)

Finally, we arrived in Bake km 40. Kita langsung ke gereja, persiapan ibadat. Di sini ibadatnya pake bahasa Mentawai. Ada persembahan pujian dari koor WK (wanita katolik) dan amazing, orangnya cuma 4 orang tapi nyanyinya keras dan bagus. Mereka pecah 2 suara. Sedikit dipoles pasti keren. Dan kita juga persembahkan 2 lagu, Sanctus dan Berbahagialah. Semoga Nama Tuhan selalu dimuliakan lewat pujian kita.
Oh ya, di Bake ini, yang beraga katolik hanya ada 9 KK (kepala keluarga). Dikit yah… jadi pas ibadat, terasa sepi sih. Tapi mereka tetap tekun kok. Dan gerejanya ini adalah gereja yang dananya diberikan oleh Bpk Jokowi. Ceritanya, waktu itu Bpk Jokowi mengunjungi Mentawai tepatnya di dusun Bake ini untuk meninjau Hun-Tap (hunian tetap) pasca Tsunami. Masyarakat meminta kepada beliau untuk mendirikan gereja katolik di sini, karena waktu itu gereja katolik belum ada. Maka beliau langsung memberikan bantuan 300 jt, cash, mkepada umat dan berjanji akan kembali ke tempat ini lagi untuk meninjau gereja tsb. Nah, ini dia.

(Gereja katolik dusun Bake, Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai)


(Anak-anak Bia di stasi Bake, bareng Pepi, Lita, Hotma, dan aku. Bagian dalam gereja)

                Setelah ibadat, kita diundang makan bersama di rumah ketua stasi. Makan sederhana yang enak. Ada subbet, makanan khas Mentawai, ikan tibbok/ikan salai di gulai dan ikan asin + telor. Setelah makan, kita dibagi menjadi 2 tim. Tim 1 untuk pembinaan SEKAMI di Bake dan tim 2 membina anak-anak di Puraorougat km 37. Aku dan beberapa teman berangkat ke km 37 dan mengadakan kegiatan SEKAMI di sana. Awalnya kita pesimis, jangan-jangan anak-anak udah pada pulang karena kita telat ½ jam. Aku ngobrol sama Oreste di jalan:

Aku: “Ores, kalo ntar kita nyampe, dan anak-anak udah pada pulang, gimana?”
Ores: “ Ya udah, kita pulang juga.” (dengan santainya menjawab)

Dan kita ketawa sepanjang jalan, membahas kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan mencoba mencari jalan keluar yang lucu dan sedikit nggak masuk akal.
Setiba di sana, sekitar 20 anak sedang menunggu dan beberapa anak sedang menyapu gereja. Aku lega, syukurlah ada yang datang. Nggak lama, anak-anak dan Pembina BIA dan OMK berdatangan dan semakin ramai. Hehehe, senang rasanya.

Kegiatan dimulai dengan perkenalan dan jelasin tujuan kami datang ke sana, lalu kita latih beberapa lagu baru. Aku latih lagu, Rijal gitaris. Setelah kita nyanyi beberapa lagu + gerakan + tepuk, kegiatan diawali dengan doa. Lalu dilanjutkan dengan Firman dan pembahasannya oleh Oreste, dilanjutkan dengan games yang dipimpin oleh Hotma dan Murni, lalu pengenalan kembali tentang SEKAMI oleh kak Eka. Teman-teman lain yang belum mendapat tugas, menjadi peraga gerak dan lagu, they are Paskah dan Apul. Semua berjalan sangat baik dan luar biasa. Ada rasa senang yang sulit dijelasin. Again, I feel this way.
Ah, ada yang lucu saat games pesan berantai. Karena ada beberapa anak kecil dan seringnya bahasa sehari-hari menggunakan bahasa Mentawai, pesan yang sampai pada temannya sangat jauh dari yang asli. Kalimat yang harus disampaikan adalah ‘Garam dan Terang dunia’, nah yang sampai tuh ‘Ajinamoto dunia’ Hahaha… Pas denger itu dari salah satu anak, semua ketawa sampe sakit perut. Si anak ni polos pula dan tambah ngakak pas liat tampangnya. Aiiih, in the name of the children, never stop make us feel wonderful. Temen Pembina lain bilang, gak jauhlah, kan deket garam sama ajinomoto. Sama-sama bumbu masak yang masuk di kuali. Aik aik aik… so funny.

Kegiatan ditutup dengan doa penutup dan pembagian snack. Yah, snack apa adanya et, GDR leek boz. Hahaha. Kami juga belum cukup modal sih buat kasih banyak, tapi  semoga bisa buat anak-anak senang ding. Dan pas anak-anak salim Pembina, ada yang bilang:

“kak, minggu depan kakak ke sini?”
Wkwkwk, si adek itu kira dari Sikakap ke tempat dia deket. Dia gak tau kalau kita mesti tartig dan sakit pinggang karena ban bocor. Hahaha, aku cuma jawab”
“nggak dek, tapi kakak akan datang lagi ke sini, mudah-mudahan dalam waktu dekat” sambil peluk kepala mungilnya.

Sayang, foto-foto pembinaan di Puraorougat belum masuk ke handphone ku, jadi blm bisa di post. Ntar nyusul deh. Ah, teman-teman yang melayani di Bake juga punya cerita yang seru kayak kita. Dan foto-fotonya juga nyusul.
Pukul 15.30 kita berangkat pulang menuju Sikakap. Dan aku merasa, semangat dan energiku penuh padahal sudah sore, dan aku juga merasakan hal yang sama terjadi pada teman-teman. Mereka bahagia.  Kita bahkan punya banyak energi untuk balapan siapa paling depan, sampe-sampe topiku terbang dan hilang beberapa saat. Untung Ores dan Sri baik hati, mau balik menjemputnya.







(Lawan berat dalam balapan)          (Lawan yang dianggap enteng, namun akhirnya menjadi pemenang)

                Perjalanan jauh, kesulitan dan lelah, terobati oleh kebahagiaan yang didapat dari memberi. Kami, nggak ada yang kaya, nggak ada yang bapaknya pejabat ato konglomerat, sehingga untuk memberi materi atau uang banyak untuk orang-orang, itu sedikit sulit.  Maka inilah yang bisa kami beri, waktu, tenaga dan tawa. Ajaibnya, setelah memberi, hal itu dilipatgandakan dan aku merasa lebih… hidup J
                Minggu ini, 12 Maret 2017 kita akan adakan acara SEKAMI di stasi pusat, stasi Sikakap, lalu kita akan persembahkan 1 pujian pas misa, dan kita mau buka kedai OMK juga. Hehehe. Dan minggu depannya lagi, rencananya kita mau kunjungan dan pembinaan di stasi Guluk-guluk. Its my mom’s town. May God bless us and all our good planning.



:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ke Ladang


17 January 2017
16.04

Kemaren habis nulis cerita “Tidak punya uang”, Ninong pulang bentar dari ladang dan mau buat minuman untuk mom, terus nggak pergi lagi. Jadi kalo dihitung-hitung nggak sampe 1 jam dia di ladang. Katanya capek abis nyangkul tanah. Dan malamnya dia ngeluh badannya pada sakit. Wkwkwk.
Dan hari ini niat ke ladang kemaren terpenuhi. Berangkatnya bareng mom, sekitar jam ½ 9 dan pulangnya jam 10. Hahaha, cuma bentar. Si mom sakit gigi dan kerjaan emang udah kelar, jadi cepat pulang.

Jangan tanya aku ngapain di sana, duduk duduk dan duduk. Hahaha. Nggaklah, ada nyangkul dikit, bantu tanam bibit kacang panjang, dan lamanya tuh berdiri lihat-lihat. Ada bukit yang tinggi dipenuhi pohon cengkeh dan rumput liar, dan di puncak bukit ada pohon kering yang mati. Backgroundnya langit biru yang bersih tanpa awan. Aaaaa, bagus bagus bagus. Sayang, lupa bawa hp buat foto. Terus liatin rumput tinggi di samping tanaman sayur mom, liat padang rumput yang luas dan jauh di sana ada pondok kecil dan tanaman kebun. Nggak lama si bapak gembala sapi datang mengiring 4 ekor sapi dan dibiarkan merumput di sana. Mmm, little New Zealand nya Sikakap. Wkwkwk.

Ada lihat tanaman merambat berbunga ungu mungil, yang selalu berdaun 3 yang katanya kalau ketemu berdaun 4, maka  kita akan menemukan kebahagiaan. Katanya. Tadi lihatnya pas jalan pulang, terus aku nanya mom, itu tanaman apa. Kata beliau itu rumput. Hahaha.

Aku nggak sempat cari yang berdaun 4, karena mau pulang. Besok-besok mungkin bisa. Tapi ada banyak yang berdaun 3, yang katanya lambang harapan. Pas banget, aku lagi ngarep banyak hal ke Tuhan. Semoga harapan-harapan itu jadi, sesuai dengan kehendak-Nya. Berkat rajin ke ladang. Hahaha.





:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS