RSS

Fisika yang menyebalkan. Dinikmati jadi memusingkan. Tapi ku cinta...

Fisika yang menyebalkan. Dinikmati jadi memusingkan. Tapi ku cinta...

Pangeranku

Ada sedikit yang nggak beres di kepalaku. Sakit. Setelah konsul, aku vertigo kata dokter. Seminggu sudah, aku belum juga baikan. Aku harus off dari semua kegiatan dan kerja. Hal yang bisa aku lakukan hanya mancilok (makan, cirik (sorry), lalok), kata orang minang. Makan, pub (maap), bobok. (Kerjaan yang diidam-idamkan banget sama pebisnis sukses dan orang kaya)
Hmm.. kalo ga baik juga dalam minggu ini, maka aku akan dijemput pangeran untuk pergi cek kesehatan ke istana peri. Di sana selain cek, ada penyihir baik yang bisa menyembuhkan segala penyakit.

Ah, yang akan ku bahas adalah pangerannya, bukan sakitnya, walaupun itu juga hal yang perlu. Tapi semoga aku akan baik-baik saja. Dan aku yakin aku akan baik-baik saja.

Pengeranku nggak bersayap seperti Chain seorang lycant dari film Jupiter. Nggak juga seorang penakluk  pedang, si Rider dalam film The lord of the rings. Gak juga romantis dan puitis seperti Tere Liye. Eh, pernah sih dia coba romantis, buatin aku puisi (itu juga setelah aku minta berkali-kali). Selain dia minta maaf karena nulisnya pake tinta merah, kayaknya itu lebih tepat dibilang pantun daripada puisi. Hahaha.
  
Tapi dia seorang laki sejati. Serius.
Waktu itu aku lagi nggak bisa nemuin gambar yang sama dalam game onet. :) 
Aku                        : “Abang, nggak nemu “(sambil nyodorin hp ke dia)
Pangeranku            : “sini, biar abang selesaikan secara jantan”
Aku dengan sangat penasaran ngeliatin dia nyelesaiin level itu dengan jantan.
Pangeranku            :” ini dia (dengan santai tekan tombol help, bantuan).
                    Nih, sudah abang selesikan secara jantan” (dia ngomong tanpa rasa malu dan bersalah)
Hahaha. Sangat jantan sekali. Gimana nggak aku toddoi dia.

Sepertinya dia nggak sehebat pangeran-pangeran dalam dongeng fairy, dan mungkin nggak setampan dan sekeren pangeranmu. Tapi dialah pangeranku, yang akan tertawa dan tertawa bersamaku (kalo nangis mah, kayaknya cuma aku. Dia Cuma bilang, ya udah, ga usah nagis. haha J) dan yang paling penting,  selalu ada, memelukku, setiap saat. :)  (kayak rexona, selalu setia setiap saat :))

Vocab:

*Toddoi = Tumbuk = Mentawai

:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anak-anak

(Anak-anak BIA di stasi Bake, Sikakap)

Rumah yang memiliki anak kecil akan sangat berbeda dengan rumah yang tidak ada anak kecilnya. Dilihat dari fisik, biasanya rumah yang berantakan dan seperti kapal pecah menandakan adanya anak kecil di rumah itu. Begitu sebaliknya, rumah yang rapi kemungkinan besar, anak kecilnya sudah dewasa atau mungkin sudah pindah rumah. ;-)

Selain buat rumah berantakan, anak-anak juga bisa membuat ribut satu kampung. Mungkin karena digangguin kakaknya, atau karena jatuh, atau karna pup dicelana dan hal-hal lain yang bisa buat emaknya teriak sampe ke Utek Uleu (dusun terdekat dari sini).

Ada satu ibu, yang rumahnya kebetulan disamping sekolah. Aku memberinya nama ibu solosong. :D
Selama aku ngajar di sini, ibu itu gak pernah absen di daftar hadirku. Absen berteriak.
Selalu, setiap hari, bahkan tadi pagi saat anak SMP ujian, dengan suasana hening, tiba-tiba ibu itu berteriak memarahi anaknya yang diakhiri dengan umpatan daerah sini. Spontan semua anak tertawa di kelas masing-masing. Aku pun cuma bisa senyum aja.

Ibu solosong punya 3 anak, yang jaraknya berdekatan. Itu membuat suasana rumah beliau hidup sehidup hidupnya, bahkan gaduh. Tapi aku yakin, mereka sangat bahagia.
Buktinya, sore tadi saat aku berangkat internetan ke kantor camat, anak bungsu beliau berumur 3 tahunan, sedang bermain dengan ayahnya. Si kecil duduk di meja, sambil mengacak-acak rambut ayahnya yang duduk di bangku. Hihihi, so sweet. Jadi pengen punya anak. :D maksudnya, aku jadi ingat bapakku.

Anak-anak, membuat kita bahagia lebih banyak. Serius.

Ah, ada beberapa  kegiatan dan permainan anak-anak di daerah ini (Siberut Barat) yang sempat aku capture. Andai aku masih seusia mereka, aku pasti ikut dan gak mau ketinggalan.


(Vera dan Icha, anaknya Bapak kepala sekolah :) Pas di ajak foto, Vera bilang "aku dibelakang aja, karena aku ompong" Hahahaha...)





 (Habis main hujan, Yohana dan Sinou main di gereja sambil lihat kakak-kakaknya kegiatan BIR. Pakaian Yohana sobek dan lusuh :( )



(Dua anak bujang berburu anak ikan di bandar sekolah) 


(Ketemu di jalan,  aku tanya "baddei nue? " (mau kemana?), jawabnya "ka mungguei" (ke pantai).  Anak-anak ini mau pergi main ke pantai. Lagi, tanpa alas kaki) 

(Lala dan teman-temannya lagi main lipat kertas di gereja) 

(Ini anak BIR,  lagi latih koor buat persiapan Natal.  Abis ni lanjut latihan dance)  




(Habis main,  mereka latihan nari.  Itu,  dibantu sama kak Dea) 


Karena daerah ini masih jauh dari teknologi, anak-anak jarang sekali atau bahkan tidak ada yang bermain gadget. Mereka asing dengan handphone dan laptop, asing dengan COC dan jewelry. Mereka lebih sering bermain di halaman dengan teman-temannya, berlarian, main masak-masak, main jual-jualan, dan yang paling sering aku lihat adalah menangguk ikan di bandar. Hahaha. Namanya di sini "manoktok". Biasanya kegiatan ini dilakukan ibu-ibu atau anak gadis dimusim hujan, di sungai-sungai. Hasil tangkapan banyakan udang, yang nanti disimpan dalam bambu. Tapi kayaknya anak-anak juga gak mau kalah.  
Kadang mereka perginya malam, 2 atau 3 orang. Herannya mereka gak takut. Ckckck.


(Lagi melihat hasil tangkapan manoktok di bandar sekolah. Sadar kamera juga. Kecuali si ndut yang lagi berdiri.  :D)



(Ini TKP nya pas banget samping rumah dinas SMP. Dapetnya lumayan loh, untuk ukuran anak-anak :D)


(Nah, itu hasilnya. Disimpan dalam botol aqua. Btw, si dedek ini semangat banget manoktoknya. Sampe main lumpur gitu)

Gambar di bawah ini adalah keluarga Paulinus, siswa SMA, yang Bapaknya meninggal beberapa waktu lalu. Kasus pembunuhan. Dan sampe sekarang, sipembunuh belum juga tertangkap. 
Kasihan. Sekarang mereka hanya mengandalkan ibu mereka dan abang tertua, Paulinus sebagai tulang punggung keluarga, seorang siswa SMA kelas XI. 
Semoga Tuhan berkarya dalam keluarga ini, dengan cara-Nya yang ajaib. Amin.




Adik Paulinus yang baju  merah, namanya Remi. Yang lain aku gak ingat, karna mereka jarang bermain di sekitar sekolah. Remi sering main ke sini, dan selalu, tanpa alas kaki. Bajunya juga sudah tidak layak pakai. Lusuh dan sobek di bagian pantat dan ketiak. 
Ketika melihat itu, aku ingin sekali melakukan sesuatu untuk Remi. 
Karena gak tau mau ngapaian,  aku ajak ngobrol aja, dan sering dia gak ngerti bahasaku, begitupun aku. Hahaha. Akhirnya aku cuma ngulang kata "anggana?" (artinya: apa?) dan menggunakan bahasa isyarat.

Aku berpikir, gimana cara bantu Remi, biar dia gak pake baju lusuh dan bisa pake sendal. Bukan hanya Remi, sebagian besar anak-anak di sini sering  tidak pake alas kaki dan pakaiannya sudah tidak layak pakai.

Aku coba hubungi Bapak Yosep di Padang, untuk ngumpulin baju dan sendal layak pakai. Sebenarnya anak-anak juga sangat butuh buku-buku bacaan. Di sini, informasi sangat sangat minim di dapat. Perpustaakaaan pun gak ada. 

Lalu beliau sangat mendukung rencana ini. SMP Frater siap membantu kata beliau, tapi untuk buku, mungkin ditunda dulu.
 Aku juga menghubungi beberapa teman, Meilinda, Ria Koyak dan Mespin. Mereka dengan senang hati ingin terlibat juga. Yeeeeyy puji Tuhan. 

Mudah-mudahan dalam minggu depan,  bantuan sudah bisa sampai sini, lewat tangan orang-orang baik. :D 
Semoga ini bisa membantu Remi dan teman-temannya di sini.  
Terima Kasih untuk semua yang terlibat.  Tuhan akan melipatgandakan semua itu.  Amin.  

Sekali lagi, Anak-anak, membuat kita bahagia lebih banyak. 



:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Paroki Baru

Karena kebaikan Tuhan,  diakhir tahun ini,  atau selambat-lambatnya,  tahun depan,  akan berdiri paroki di Betaet ini.
Horay banse banseee
πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ™†πŸ™†πŸ™†πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Hal ini sudah lama direncanakan ternyata,  hanya saja baru bisa direalisasikan dalam waktu dekat.

Semoga pembangunan ini diberkati Tuhan. Segala sesuatu dilancarkan,  baik dari keuskupan,  donatur,  dan terutama masyarakat di Betaet sendiri.

Terang saja hal ini seperti menemukan oasis di tengah Padang pasir.  Bahkan saya sendiri pun,  yang bukan asli penduduk sini,   mau ikut membantu dan berpartisipasi,  dalam hal apapun yang saya mampu.  Apalagi masyarakat lokal.  Sudah sepatutnya memberikan bantuan dan sumbangsih,  seperti pelepasan tanah atau lokasi,  iuran,  dukungan moril dan yang tak kalah penting,  doa.

πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ’’πŸ’’πŸ’’⛪⛪⛪🌿🌿🌷🌷

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karakter anak, janganlah guru selalu disalahkan

Masih banyak orang tua belum sadar bahwa pendidikan karakter,  skil,  dan kecerdasan anak bukan hanya tugas guru dan sekolah. Rumah,  adalah tempat dimana anak banyak menghabiskan waktu,  maka sudah sepatutnya,  pendidikan anak dalam 3 ranah tadi, juga menjadi tanggung jawab orang tua.
Hal ini menjadi perbincangan hangat bagi para guru,  karena  seringnya guru disalahkan jika anak berlaku tidak baik dan tidak sopan dalam keluarga dan masyarakat.

Kita dapat mengambil beberapa contoh.

1. Melawan orang tua dan berbicara kotor.

Orang tua mengajarkan anak untuk tidak melawan dan tidak berbicara kotor.  Lalu ketika pertengkaran terjadi dalam keluarga,  semua kata-kata kotor dan hinaan mengalir lancar,  saling menyalahkan dan memaki. Tanpa ada yang mau mengalah dan mengakui kesalahan.
Anak akan mengikuti apa yang dilihat dan yang dialami.  Sangat sedikit kemungkinan anak mengikuti perintah,  terutama perintah yang tidak disertai contoh.
Ini bukan hanya opini,  tapi sudah terbukti.

Anak tidak bisa menyelesaikan soal integral dan diferensial,  jika kita tidak memberikan contoh penyelesaiannya. Sekalipun kita sudah berkoar-koar menyuruhnya untuk membagi konstanta dengan pangkat ditambah satu dikali variabel pangkat ditambah satu.
Atau melatih anak menari dengan kata dan teriakan,  'angkat kaki kiri, kibaskan tangan, loncat dengan gemulai' tanpa memberi contoh. Saya sendiri pun tak bisa bayangkan,  itu gerakan bagaimana. πŸ˜€πŸ˜€

Nah,  kembali ke sini.  Ketika anak melawan orang tua dan berbicara kotor,  maka orang tua mulai mencari pembenaran dirinya dan mungkin dengan terpaksa atau dengan senang hati menyalahkan guru.
Karena selama saya menjadi guru,  saya tidak pernah mendengar guru berbicara kotor di sekolah atau memaki dan  menghina orang.  Jadi,  dari contoh ini,  kita bisa tahu,  dari mana anak tahu cara melawan dan berbicara kotor.

2. Tingginya angka kehamilan di bangku sekolah.

Dibeberapa tempat,  saya masih melihat adanya izin dari orang tua,  berpacaran bagi anak sekolah. Jika ditingkat SMA hal ini mungkin masih bisa diterima,  mungkin ya, mungkin!!! parahnya ini terjadi di tingkat SMP.  Untuk sekolah sendiri,  sangat melarang adanya hubungan pacaran antar siswa. Ujung-ujungnya Cinta berakhir di ruang BK.  Hahahaha πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€
Pengalaman beberapa anak saya waktu masih ngajar di kota.

Untuk daerah tertinggal,  dipikiran saya, seharusnya lebih ekstrim lagi, karena daerahnya kecil dan masyarakatnya tidak terlalu banyak.  Maka, jangankan pacaran, duduk berdua,  berjalan berdua pun, harusnya ada rasa segan.
Nah,  hal yang sebaliknya kadang terjadi. Di daerah kecil, bisa saja tata krama dan kesopanan luntur. Rasa segan kepada orang tua,  bahkan guru, sangaaaat jauh di bawah rata-rata.
Saling nyandar,  tidur dipangku cewek,  duduk rapat,  pegang tangan,  masih merupakan hal biasa,  bahkan di depan orang tua.
Ada juga orang tua yang membiarkan anak gadisnya pulang tengah malam,  tanpa di marahi.
Maka tidak heran, angka kehamilan anak sekolah meningkat.

Hal ini bukan hanya pr orang tua,  guru sebagai pendidik juga harusnya memberikan contoh yang baik,  terutama bagi guru-guru muda yang single, apalagi seprofesi dan setempat kerja. Jika guru pacaran,  tentu saja boleh,  karena memang sudah waktunya,  apalagi yang sudah serius membangun rumah tangga.  Tapi semua itu ada tempat dan waktunya.  Sebaiknya menghindari pacaran di sekolah,  apalagi dihadapan siswa,  dan harusnya guru lebih tau mengatur waktu pacaran.

Selain orang tua dan keluarga,  lingkungan dan masyarakat juga sangat berperan penting dalam perkembangan anak.  Untuk daerah perkotaan,  gadget dan internet juga menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter anak.  Tapi untuk daerah terdepan, tertinggal,  terluar (3T)  seperti di Betaet ini,  internet masih menjadi hal langka yang belum berpengaruh bagi perkembangan karakter anak.

Jadi kesimpulannya adalah,  marilah kita bekerja sama,  baik itu guru,  orang tua,  dan masyarakat,  memberikan pengajaran yang baik bagi anak-anak kita.  Bukan hanya tugas guru semata.  Dan bukan hanya kata-kata belaka.
(Romantis hihihi πŸ˜€πŸ˜€)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Betaet krisis imam (For Chatolic only)



Ini hanya curahan hati.

Beberapa petinggi daerah yang secara tak sengaja ku temui di pusat kabupaten,  Tuapejat,  saat pengambilan SK, menitipkan pesan dan semangat untuk mengabdi di pantai barat, Betaet.  Hal ini juga didukung oleh informasi yang beliau-beliau dapatkan, bahwa aku akan sangat membantu daerah itu dibidang pelayanan.  Hihihi,  jelas saja itu sedikit menggelitik,  karena selama ini aku bekerja dan beraktivitas bukan di zona pemerintahan Mentawai. Lalu tiba-tiba aku menjadi sedikit terkenal dan jujur membuatku merasa sedikit bangga.   😁😁😁
 Namun itu tak bertahan lama,  karena informasi-informasi yang disampaikan mengenai daerah ini,  sempat membuatku dan beberapa teman gemetar.  Termasuk ombaknya. Hmm,  aku akan mengalaminya nanti,  ketika tiba di sana,  begitu pikirku.

Lalu sampailah aku di sini,  sekarang ini,  dan saat menulis blog ini,  1 bulan setelah mengalami rasa bangga yang tak seberapa itu.

Gereja,  bangunannya,  beralas pasir.  Berdinding kayu,  apa adanya.  Beberapa bagian ditambal menutupi lubang.
Baiklah,  itu hanya bangunan,  mari kita lihat gereja yang merupakan orangnya.

Anak-anak,  orang muda...
yang sangat haus akan pembinaan dan pendampingan. Ratusan orang jika digabung,  tapi tak ada pembina.

Orang tua?  Entahlah, aku gak tahu,  apakah orang tua juga butuh pembinaan rohani. Yang ku tahu,  WKRI gak ada di sini,  karena gak ada yang mendampingi dan menggerakkan.

Pembabtisan?  Pemberkatan perkawinan?  Rosario?  Pendalaman iman?  Bulan kitab suci nasional?
Bagaimana bisa berjalan,  semua di sini adalah awam yang lebih banyak tidak tahunya daripada tahunya,  sehingga yang berjalan hanya ibadat sabda di hari minggu.  Bahkan seorang katekis pun tak ada.

Ini,  baru 1 daerah,  pusat kecamatan Siberut Barat, desa Simalegi.  Ada 2 desa lagi selain ini,  Simatalu dan Sigapokna,  dengan puluhan dusun dan ribuan orang yang perlu dan sangat memerlukan pelayan. Terutama pelayanan seorang gembala.
Di sini,  ladang sangat luas,  tapi pekerja,  tak ada.  πŸ˜’😒😒

Jadi,  kita tak bisa salahkan siapa-siapa jika beberapa orang atau keluarga berpindah ke agama lain, dengan banyaknya bantuan moril dan materil, hadir secara langsung disini. Itulah kenyataan yang sedang dihadapi Betaet saat ini. 

Baru saja 1 bulan,  aku sudah haus akan Ekaristi.  Aku rindu perayaan Misa di Katedral Padang yang begitu khusuk dan menentramkan,  dengan megahnya bangunan gereja atau seperti perayaan misa di gereja Sikakap atau di Tuapejat.  πŸ˜’😒😒

Sudah 4 kali minggu,  4 kali ke gereja, ingin menangis,  ingin cerita,  ingin meminta bantuan.  Tapi tak tahu caranya,  tak tahu kemana. Akhirnya hanya bisa cerita di dinding blog.

Maka, sangat sangat sangat dan patut bersyukurlah jika teman-teman memiliki imam dan tempat ibadah yang nyaman.
:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Siberut Barat

Perjalanan ke Siberut barat sudah terbayang olehku.  Ombak yang setinggi rumah dan tebing batu di sekitar pantai yang ditakuti orang untuk berkunjung ke sana.  Bukan aku yang pernah ke sana,  tapi orang yang pernah ke sana menceritakannya dengan semangat dan dengan ekspresi yang meyakinkan.  Aku yang awalnya hanya takut menjadi semakin takut.  Aku pikir,  ke sana hanya untuk ngantar nyawa.  Hahaha.
Tapi...  Setelah sampai di sana,  gak ada ombak setinggi rumah.  Ga ada tebing batu di kiri kanannya. Perjalanan kami baik-baik saja,  walaupun aku tetap nangis ketika akan sampai karena melihat ombak yang besar.  Tapi tetap,  ombaknya tidak sampai setinggi rumah.  Mungkin hanya setengahnya saja.
Hmm,  terkadang orang-orang suka melebih-lebihkan cerita lalu menambah bumbu biar sedikit lebih sedap.  Padahal bumbu yang sedikit itu bisa saja berdampak besar bagi orang lain.  Maka,  teman-teman,  mari kurangi bumbu dalam bercerita.  Kita katakan apa adanya saja.  πŸ˜ŠπŸ˜‰
Kembali ke Siberut Barat,  yang merupakan pantai paling barat dari kepulauan Mentawai.
Banyak hal unik di sini,  seperti bahasa yang belum pernah aku dengar sebelumnya.  Kadang ada bahasa yang mirip dengan bahasa korea,  seperti 'igoo' untuk bilang 'aduh'.  Lalu ada kebiasaan ibu-ibu menyematkan bunga di rambutnya,  yang katanya menandakan bahwa mereka sedang bersukacita.  Yang gak pake bunga di kepalanya mungkin lagi merasa biasa-biasa aja.  Hihihi.  Dan orang tua yang memiliki anak kecil akan menggunakan 'inu' atau kalung manik khas Mentawai.  Mmm,  terus di sini setiap keluarga pasti memiliki gerobak kayu,  yang selalu digunakan untuk membawa hasil ladang dan untuk mengangkat pasir.  Di sini sulit mendapatkan bahan makanan karena akses yang sulit ditambah ombak yang sedikit besar.  Harga barang menjadi mahal karenanya.
Ah,  ada beberapa foto tentang kampung ini,  terutama sekolahnya,  tempat kerjaku.

Awalnya gak terima dikirim ke Betaet,  Siberut Barat.  Tapi apalah daya,  akhirnya diterima juga.  

Pandangan pertama 


Pantai Betaet arah selatan 

Ini,  yang mana siswa yang mana guru.  Hahaha.  Bermahkota ria setelah goro.  
Gurunya hanya yang baju biru,  selebihnya anak-anak SMP N 1 Siberut Barat.  

Halaman sekolah,  depan kantor.  Biar di daerah terluar,  wifi wajib ada...  πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Soal adat dan budaya?  Disini masih kaya.  Kantong aja yg gak kaya.  Wkwkwk

Masih guru.  Dulu juga pernah capture gini di kelas 7-3 SMP Frater Padang,  kali ini di kelas 7-a SMP N1 Siberut Barat. 

Halaman dan bangunan kelas





:)Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mimpi

Pagi yang tenang…
Menghantarkan mimpi kembali ke udara
Berserak menjadi puing yang sedikit diingat dan sebagian dilupa
Mimpi bersamamu
Duduk di bawah pohon teduh
Sedang ilalang melambai di ujung sana
Seorang anak berlarian, disusul seorang lagi
Ah, bintang jatuh tadi malam
Mengabulkan permohonanku dalam mimpi


Mentari malu-malu muncul dibalik dedaunan
Hangat,  memelukku dari dingin semalaman
Seperti kau sedang memelukku
Saat bercengkrama di bawah pohon teduh
Dalam mimpiku tadi malam

Tahu kah kau, dalam mimpiku
Awan memiliki tangan
Ia mengambil pedih dan sedih, sisa dari masa lalu
Dan sahabatnya angin, menghantar kesejukan bersama helai daun yang jatuh
Menyentuh hatiku hingga ke relung paling dalam
Aku bertanya-tanya, apakah ini yang disebut bahagia?


Aku terjaga dari tidur
Tersandar dalam pelukanmu

Kau…  ada dalam mimpi dan nyata hidupku



:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

OMK ke Guluk-guluk


Kunjungan kali ini di hari minggu tanggal 19 Maret 2017.  Mulai dari hari Jumat-Sabtu, kita persiapan paduan suara untuk persembahan pujian dalam ibadat dan persiapan kegiatan SEKAMI.

Hari sabtu 18 Maret 2017, kita dapat kabar duka bahwa Bapak dari seorang teman OMK dipanggil Bapa. :'(

Kita hampir batalin keberangkatan ke Guluk-guluk, tapi setelah dibicarakan ulang, kita tetap jadi berangkat.
Hebatnya, beberapa teman-teman cowok berinisiatif buat karangan bunga, karena di sini gak ada tepat/jasa pembuatan karangan bunga. Teman-teman begadang sampe jam 1 malam untuk ngebuatnya. Makasih ya teman-teman. Mmm, sederhana namun indah. Sayang, gak sempat di foto, karena waktu itu kita bener-bener gak ada yang kepikiran buat foto-foto.

Setelah semua oke, kita berangkat ke Guluk-guluk yang jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan sepedamotor. Sebelumnya kita singgah dulu di rumah duka (Matobe) yang sekitar 20 menit dari Sikakap.
Sampai di sana, suasana sangat sangat memilukan. Banyak keluarga dan sahabat yang datang, sangat ramai, seramai tangisan-tangisan yang sangat menyayat hati.

Matamu terpejam, insanpun terdiam
Nyanyi ria terputus, kegelapan mencekam
Salibmu tersandar dingin kaku
Saudara meratap tersedu
S’lamat jalan saudara
Mawar cinta perkasa
Semoga karsa dan harapan
Fajar baru merekah

Hari itu serasa kelabu. Kita berangkat dalam diam dan tanpa senyum. Padahal kita akan melayani anak-anak dalam sukacita.

Namun terkadang, kita sering dikelabuhi oleh perasaan, terutama rasa sedih yang mendalam, sehingga hati kita tertutup akan maksud dan rencana Tuhan. Bahwa tak ada duka yang abadi, pun tak ada sukacita yang abadi. Semua bergulir dan mengalir dengan adil. Tuhan tidak membiarkan dunia kami kelabu dan sedih sepanjang hari, Ia mengirim hal-hal konyol terjadi untuk kami tertawai bersama. The Amazing Father :) 

Aku gak tau siapa yang memilih jalan pantai untuk menempuh dusun Bubuakat---- Mangauk-ngauk. Karena kami berada di barisan paling belakang, ya kami cuma ngikut ketua rombongan yang di depan. Katanya ini jalan pintas, jalan pantai. Tak ada masalah, selama air laut tidak naik pasang.
Ternyata, ada masalah, air laut naik.   4 motor sudah jauh di depan dan nggak lagi kelihatan, sedangkan 4 motor lainnya sedang berusaha melewati air laut yang semakin naik. Belum lagi pasir yang dilalui lunak dan ban sering selip dan ntah berapa kali kita hampir jatuh.


(Mega dan Merpin. Penumpang harus turun untuk melewati beberapa jalan sulit)

Gak ada yang bisa dilakuin selama perjalanan 1 jam itu, selain menikmatinya dan menghibur diri. Hampir jatuh, kita ketawa. Motor gak bisa jalan sehingga penumpang turun, kita ketawa. Motor mogok, ketawa, mogok lagi, ketawa lagi. Hihihi, lucu. Perjalanan yang seharusnya bisa dilalui dengan 15 menit menjadi 1 jam lebih.  


(Beberapa teman sedang menyeberangkan motor untuk melewati sungai kecil)


(Nah, ini Frater kami yang sedang berusaha menaklukkan pasir kering, tak lupa penumpangnya Pepi memberi semangat. )

                       
Di ujung jalan pantai, beberapa teman sedang menunggu sambil berteriak memberi semangat, seperti kejuaraan lomba lari. Aku curiga, memberi semangat yang mereka maksud adalah kata lain dari ngetawain. Uuuhh, tapi tak apalah, tak ada yang dapat dilakukan selain ikut ketawa. Akhirnya kita ketawa bareng2, ngetawain yang baru aja dilaluin dan ngetawain Oreste yang ternyata adalah dalang dari diambilnya jalan pantai ini. Sungguh, berjalan dengan Oreste lumayan sengsara.

 Telat. Sampai di Guluk-guluk jam 11 pagi. Ibadat dimulai jam stengah 12 yang seharusnya jam 10. Tapi karena ada beberapa kejadian yang tak diduga, umat juga dapat memakluminya. Jam 1 selesai ibadat (lamaaaa) dan kita makan di rumah umat lalu jam 2 kita mulai pembinaan anak-anak. Hmm, di sini banyakan anak kecil. Yang sekolah udah pada berangkat ke desa Saumangnyak, tempat yang ada sekolah SMP dan SMA nya. Jadi anak-anak nggak begitu ramai. Dan ini nya lagi, OMK di sini ternyata nggak jalan. Nggak ada kegiatannya. :)
Tapi semoga dengan sharing hari itu, mereka punya inisiatif dan kemauan untuk bangkit lagi. Amin.


(Ini foto rombongan kita, OMK Sikakap)

(Dan ini kita bareng OMK Guluk-guluk setelah sharing bersama)

Ini beberapa foto kegiatan SEKAMI di sana.


(Mereka diajarin untuk berani memimpin doa spontan, Bapa kami, Salam Maria dan Kemuliaan)



 (Ini nggak tau ekspresi apa. Saking serius berdoa kali yak, atau yang lagi mau bersin. Hahaha)


(mereka semangat banget pas diajarin lagu-lagu baru. Ini pas lagu mentega dan roti.)


(Ini games kelas besar atau anak-anak kelas 4 ke atas)


(dan ini permainan kelas kecil. Hihi, masih imut dan lambat ngertinya. Jadi makin lucu lihat mereka bermain, saking lucunya kakak pembina lebih banyak ngumpul di sini)


Jam stengah 5 kita cabut. Aku sempat ke rumah tante bentar buat ambil pisang untuk mom. Lalu sambil jalan pulang, kita laksanain aksi sosial kita buat kasih bantuan beras ke umat yang dirasa layak untuk menerimanya.



(Nano, Buai’ = Nenek, Rijal dan Frater)


(Nano lagi jelasin  ke Buai’ dari mana asal bantuan pake bahasa Mentawai yang patah-patah. Hahaha)
                       

Ini adalah 2 nenek yang hidup sendiri yang tidak ada penghasilan pasti perbulannya. Mereka ke ladang menanam pisang atau keladi dan berusaha untuk tetap bertahan hidup sekuat mereka. Kami cuma bisa memberi beras yang nggak banyak, yang menurut ku, jujur, itu sangat sedikit dan nggak ada apa-apanya. Tapi untuk kita tau, bagi mereka makan nasi itu termasuk hal yang wah dan mewah di sini. Hanya beberapa keluarga yang bisa makan nasi setiap hari, seperti pegawai pemerintah dan orang yang punya kedai di sini. Tanteku, mereka biasanya makan pisang dan keladi yang diolah menjadi subbet (makanan khas mentawai), sedangkan beras itu hanya dimasak sekali sehari 1 tekong hanya untuk anak-anaknya, itupun dibanyakin airnya sehingga menjadi bubur, agar banyak, karena tante punya 3 anak. Kerasnya hidup. Aiihh, apalagi dengan nenek-nenek ini.

Beda banget dengan kita, nasi tuh ada banyak dan bahkan ada yang buang malah, tanpa banyak mikir. Terutama yang tinggal di kota. Semoga kehidupan masyarakat di Guluk-guluk semakin membaik dan kehidupan kitapun baik, dalam ekonomi, bertetangga dan dalam ber-Tuhan.

Perjalan pulang, hmmm, gimana ya. Lagu yang diajarin ke anak-anak tadi, jalan serta Yesus, menjadi lagu yang pas dinyanyiin sepanjang jalan. Aku dan Merpin berada di posisi paling belakang, dan setelah menempuh perjalanan sekitar 3 km, ban belakang kio bocor. Hiks hiks, kita mesti jalan sekitar 1 km, karena nggak ada bantuan. Teman-teman udah jauh di depan dan nggak lagi kelihatan. Gak ada bengkel, yang ada cuma sawah dan pohon-pohon, sungai, jembatan. Sukseslah lagu jalan serta Yesus kami nyanyikan. Karena merasa lelah, aku request ke Tuhan agar dikirim bantuan. Dan Puji Tuhan, Halleluyah, seorang datang dan mau menolong. Dia bawa aku ke desa terdekat (Saumanganyak) dan Merpin bawa kio. Di perjalanan aku ngira-ngira, kalo jalan kaki sejauh ini mah, beneran nggak kuat. Jauh kali pung.

Sampe di sana, teman-teman lagi nunggu di salah satu kedai. Oh, senangnya bertemu mereka. Aku sedikit cemas juga, karena hari mulai gelap. Kita minum dan makan wafer dan ngobrol dan ketawa dan ngelawak dan sambil nunggu kio dibaikin. Lagi-lagi, ini semua karena Oreste. Aku juga gak tau kenapa, tapi kak Eka bilang ini semua karena Oreste. Sampai diciptakan lagu, jalan serta Oreste, sengsara selamanya. Hahaha.

4 motor udah jalan duluan dan kami ga tau mereka dimana. Yang rombongan aku ada 4 motor dan kita udah kemalaman di jalan. Aku gak takut sih, karena rame-rame. Kalo cuma 1 atau 2 motor, itu horor juga. Gimana nggak, kiri kanan hanya hutan.

Akhirnya kita sampai di perumahan penduduk, Polaga, lalu Mangauk-ngauk, Bubuakat dan Matobe. Kita singgah bentar di rumah duka, buat ngecek jangan-jangan teman-teman lagi doa di sana. Dan betul, mereka semua di sana. Tapi kita nggak bisa masuk, dan mereka yang lagi doa nggak bisa keluar, karena ada doa yang lagi nggak bisa diganggu. 
Di sanalah aku lihat, seorang ibu kerasukan dan kejang-kejang, teriak-teriak. I am afraid, really really afraid. Di sana tu gelap banget, nggak ada lampu dan listrik. Oh God, untung kita bisa pergi, dan doa selesai dan kita bisa pulang semua, bareng-bareng dan Puji Tuhan, semua baik-baik saja. Hihihi takut ding.

Karena jalanan Matobe-Sikakap udah jalan bagus, mirip aspal dikit, kita bisa jalan ber-iringan 3 motor 1 baris. Kita buat formasi 3 3 3, eh motornya lebih satu ya. Hehehe, bukan, bukan motor hantu, tadi aku lupa hitung motor Abdi :)


Dengan formasi yang ngeborong jalan, kita konvoi dengan bernyanyi sepanjang jalan. Nyanyi kita adalah nyanyi anak-anak sekolah minggu, mulai dari jalan serta Yesus, jalan serta Oreste yang sengsara selamanya, Sorak-sorai, ku mau cinta Yesus, Bapa Abraham, Teman mari kita terbuka, hakuna dan banyaaaaakkk lagi. Hampir 3 album. Hahahaha. Lagi-lagi, kita pulang membawa sukacita dan bahagia di hati masing-masing. Semoga kita semua bahagia di dalam Tuhan. :)



:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aksi Setekong Beras

22 March 2017

Sore itu aku dan beberapa teman berkumpul untuk menjalankan misi mulia yang tidak rahasia, yaitu aksi setekong beras. Kita ngumpulin 1 tekong beras dari rumah-rumah umat katolik di paroki Sikakap ini. Beras-beras ini akan diberikan pada umat yang dianggap layak untuk menerimanya yang tinggal di stasi-stasi atau di kampung-kampung. Hmm, bukan berarti kami tinggal di kota, ya Sikakap ini juga kampung. Jadi intinya orang kampung memberi bantuan beras kepada orang kampung lainnya. Hahaha…


 (Aksi setekong beras)

(Gak cuma tekong, ada yang pake mangkok malah, dan banyak yang ngasih lebih J)


Yappp, kami adalah OMK = orang muda ketuaan = Orang Muda Katolik, yang kedatangannya di pintu-pintu umat sangat tidak diharapkan dan tidak ditunggu-tunggu. Hahaha, tapi kami dengan pedenya mengetuk pintu demi pintu.

Beberapa view lumayan bagus yang didapat selama aksi ini.


(Lagi nunggu Peni yang lamaaaa banget jemput beras di rumahnya. Ini deket rumah Bapak Silaen)


(Ada tanaman anggur di halaman rumahnya Papi di Mabolak. Sayang belum ada yang matang)


(Di Takpuraukat, di salah satu rumah warga, teman kita, Andi ikut main auooo uuooo dengan anak-anak. Bener masa kecil kurang bahagia J Hampir aja dia ditinggal di sana)

Kita berhasil ngumpulin sekitar 20an kg beras yang akan kita sumbangin ke stasi Guluk-guluk (mom’s town). Semoga semua yang kita lakuin berguna bagi kita dan sesama. :) 



:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jatuh Hati

21 March 2017
Night in my room


Awalnya tak ada yang istimewa darimu
Sesering kau berlalu, sebanyak itu aku tak peduli
Hingga suatu hari, ku temukan senyummu di balik kaca
Senyum yang bukan untukku

Sejak itu, ku tunggu kau lalu setiap hari
Hanya untuk melihat senyum teduhmu
Kata orang ku jatuh hati
Yang ku rasa seluruh dunia ku jatuh

Aku mulai menulis namamu di langit
Berharap langit membawamu dalam hidupku
Jikapun ini terlalu jauh

Cukuplah saja bila senyum itu untuk ku


:) Vi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS